Langsung ke konten utama

STRUKTUR KRISTAL

STRUKTUR KRISTAL


 
Dalam mineralogi dan kristalografi, struktur kristal adalah suatu susunan khas atom-atom dalam suatu kristal. Suatu struktur kristal dibangun oleh sel unit, sekumpulan atom yang tersusun secara khusus, yang secara periodik berulang dalam tiga dimensi dalam suatu kisi. Spasi antar sel unit dalam segala arah disebut parameter kisi. Sifat simetri kristalnya terwadahi dalam gugus spasinya. Struktur dan simetri suatu emmainkan peran penting dalam menentukan sifat-sifatnya, seperti sifat pembelahan, struktur pita listrik, dan optiknya.  

Sel unit

Satu sel unit adalah susunan spatial atom-atom yang mengekor secara tiga dimensi untuk menggambarkan kristalnya. Posisi atom dalam sel unit digambarkan sebagai unit asimetri atau basis, sekumpulan posisi atom yang diukur dari suatu titik kisi.

Setiap struktur kristal memiliki sel unit konvensional yang biasanya dipilih agar kisi yang dihasilkan sesimetris mungkin. Meski begitu, sel unit konvensional tidak selalu pilihan terkecil yang mungkin. Suatu sel unit primitif dari suatu struktur kristal merupakan sel unit terkecil yang mungkin yang dapat dibangun, sehingga, ketika disusun, akan mengisi spasi/ruang secara sempurna. Sel Wigner-Seitz adalah suatu sel primitif khas yang memiliki simetri yang sama dengan kisinya. 

Sistem kristal

Ada 7 sistem kristal unik, yaitu menurut penurunan simetri

1.Kubus atau Kubik

Dalam kristalografi, sistem kristal kubik (atau isometrik) adalah sistem kristal di mana sel satuan berada dalam sebuah bentuk kubus. Sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana dan paling umum yang ditemukan pada kristal dan mineral.

Ada 3 macam kristal kubik yang umum ditemui, yaitu:

  • Kubus sederhana (primitive cubic, simbol Pearson: cP)
  • Kubus berpusat-badan (body-centered cubic, bcc, simbol Pearson: cI),
  • Kubus berpusat-muka (face-centered cubic, fcc, simbol Pearson: cF, juga dikenal sebagai cubic-close packed, ccp).

Setiap kristal dibagi menjadi varian lain seperti di bawah ini. 


 
 
Kisi Bravais
Terdapat tiga kisi Bravais yang membentuk sistem kristal kubik:  

Sistem kubus sederhana terdiri dari titik kisi pada setiap sudut kubusnya. Setiap atom pada titik kisi kemudian dibagi rata ke 8 kubus lainnya sehingga hanya ada bagian atom pada setiap titik kisi. Dengan ini, setiap sel satuannya memiliki 1 atom ( × 8).

Sistem kubus berpusat-badan mempunyai 1 titik kisi pada pusat sel satuan ditambah 8 pada sudut-sudut kubus. Dengan ini, setiap sel satuannya memiliki 2 atom ( × 8 + 1).

Sistem kubus berpusat-muka mempunyai titik kisi pada muka (sisi) kubus, setiap titik kisi berisi setengah bagian atom, ditambah titik kisi pada setiap sudut kubus tersebut. Dengan ini, setiap sel satuannya memiliki 4 atom ( × 8 dari sudut ditambah ½ × 6 dari muka). 

2.Heksagonal

Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain. Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Hexagonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+.
Sistem  ini dibagi menjadi 7:
Hexagonal Piramid
·         Kelas : ke-14
·         Simetri : 6
·         Elemen Simetri : hanya terdapat 1 sumbu putar enam.
Hexagonal Bipramid
·         Kelas : ke-16
·         Simetri : 6/m
·         Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 1 bidang simetri
Dihexagonal Piramid
·         Kelas : ke-18
·         Simetri : 6 m m
·         Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 bidang simetri
Dihexagonal Bipiramid
·         Kelas : ke-20
·         Simetri : 6/m 2/m 2/m
·         Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 sumbu putar dua, 7 bidang simetri masing-masing berpotongan tegak lurus terhadap salah satu sumbu rotasi dan satu pusat
Trigonal Bipiramid
·         Kelas : ke-1
·         Simetri : 6bar (ekuivalen dengan 6/m)
·         Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 1 bidang simetri
Ditrigonal Bipiramid
·         Kelas : ke-17
·         Simetri : 6bar 2m
·         Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 3 sumbu putar dua, dan 4 bidang simetri
Hexagonal Trapezohedral
·         Kelas : ke-19
·         Simetri : 6 2 2
·         Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 sumbu  putar dua
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz, corundum, hematite, calcite, dolomite, apatite. (Mondadori, Arlondo. 1977).
 

3.Tetragonal 

Sistem Tetragonal sama dengan sistem Isometrik, karena sistem kristal ini mempunyai tiga sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a1 dan a2 mempunyai satuan panjang sama, sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya lebih panjang.
Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a1 = a2 ≠ c , yang artinya panjang sumbu a1 sama dengan sumbu a2 tapi tidak sama dengan sumbu c, dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalografinya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚).
Sistem kristal Tetragonal memiliki perbandingan sumbu a1 : a2 : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a1 ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu a2 ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan), Sudut antara a1 dengan a2 = 90o, sudut antara a2 dengan a3 = 90o, sudut antara a3 dengan a1 = 90o, sedangan sudut antara a1 dengan –a2 = 30o. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a1 memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu –a2. Perhatikan gambar sistem kristal Tetragonal dibawah ini :

Kristal ini memiliki dua sumbu yang sama, sumbu horisontal yang bersudut 90 derajat dan satu sumbu (yang lebih panjang dibandingkan dengan dua lainnya) tegak lurus terhadap bidang antara dua sumbu yang sama tadi. Dengan kata lain, semua sumbu membentuk sudut siku-siku atau 90o terhadap satu sama lain, dan dua sumbu adalah sama panjang. Kalkopirit (atau tembaga-besi sulfida) adalah contoh dari sitem kristal Tetragonal, contoh lain dari sistem kristal Tetragonal adalah seperti; Anatase, Zircon, Leucite, Rutile, Cristobalite, Wulfenite, Scapolite, Cassiterite, Stannite, Cahnite, dan lain-lain.
Sistem Tetragonal dibagi menjadi 7 Kelas, yaitu :
1.       Ditetragonal Dipyramidal
·    Kelas : Ke-27, Simetri : 4/m 2/m 2/m
·    Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat, sumbu putar dua, lima sumbu simetri.
·    Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan –a1 keduanya sama, dengan satu sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·    Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·     Bentuk Umum : Ditetragonal dipiramid, tetragonal dipiramid, ditetragonal prism, tetragonal prism, dan basal pinakoid.
·     Mineral yang Umum : Apophylit, Autunit, Meta-Autunit, Torbernit, Meta-Torbernit, Xenotime, Carletonit, Plattnerit, Zircon, Hausmannit, Pyrolusit, Thorite, Anatase, Rilit, Casiterit dan lain-lain.
2.       Kelas Tetragonal Trapezohedral
·    Kelas : Ke-26, Simetri : 4/m 2/m 2/m
·     Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat, dua sumbu putar dua, semuanya berpotongan tegak lurus ke sumbu putar lain.
·     Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan –a1 keduanya sama, dengan satu sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·     Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·     Bentuk Umum : Tetragonal trapezohedron, ditetragonal prism, tetragonal prism, tetragonal dipyramid, dan basal pinakoid.
·     Mineral yang Umum : Wardit dan Kristobalit.
3.       Kelas Ditetragonal Pyramidal
·     Kelas : Ke-25, Simetri : 4/m
·     Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat dan empat bidang simetri.
·   Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan -a1 keduanya sama, dengan satu sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·    Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·  Bentuk Umum : Ditetragonal pyramid, ditetragonal prism, tetragonal prism, tetragonal pyramid, dan pedion.
·  Mineral yang Umum : Diaboleit, Diomignit, Fresnoit, ematophanit, dan Routhierit.
4.       Kelas Tetragonal Scalahedral
·    Kelas : Ke-24, Simetri : 4bar 2/m
·    Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat, dan dua sumbu putar dua, dan dua bidang simetri.
·   Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan -a1 keduanya sama, dengan satu sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·     Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·   Bentuk Umum : Tetragonal scalahedron, disphenoid, ditetragonal prism, tetragonal prism, tetragonal dipyramid, dan pinakoid.
·         Mineral yang Umum : Kalkopirit dan Stannit termasuk Akermanit, Hardistonit, Melilit, Urea, Luzonit, Pirquitasit, Renierit, dan Tetranatrolit.
5.       Kelas Tetragonal Dipyramidal
·         Kelas : Ke-23, Simetri : 4/m
·         Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat dan satu bidang simetri.
·         Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan –a1 keduanya sama, dengan satu sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·         Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·         Bentuk Umum : Tetragonal dipiramid, tetragonal prism, dan pinakoid.
·    Mineral yang Umum : Scapolit, Wulfenite, Vesuvianit, Powellit, Narsarsukit, Meta-Zeunerit, Leucit, Fergusonit, dan Scheelit.
6.       Kelas Tetragonal Disphenoidal
·         Kelas : Ke-22,  Simetri : 4bar
·         Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat.
·         Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan -a1 keduanya sama, dengan satu sumbu (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·         Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·         Bentuk Umum : Tetragonal disphenoidal, tetragonal prism, dan pinakoid.
·         Mineral yang Umum : Cahnit, Minium, Nagyagit, Tugtupit, dan beberapa yang jarang seperti Krookesit, Meliphanit, Schreibersit, dan Vincentit.
7.       Kelas Tetragonal Pyramidal
·         Kelas : Ke-21, Simetri : 4
·         Elemen Simetri : Terdapat satu sumbu putar empat.
·         Sumbu Kristal : Dua sumbu a1 dan -a1 keduanya sama, dengan satu sumbu
          (sumbu c ) bisa lebih panjang atau pendek dari kedua sumbu lainnya.
·         Sudut : Semuanya memiliki sudut 90o
·         Bentuk Umum : Tetragonal piramid, tetragonal prism, dan pedion.
·         Mineral yang Umum : Wulfenit (diragukan), Pinnoit, Piypit dan Richelit.

4.Rhombohedral (trigonal)

                                                  ROMBOHEDRAL
Jika kita membaca beberapa referensi luar, sistem ini mempunyai nama lain yaitu Rhombohedral, selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal Hexagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem Trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.
Pada kondisi sebenarnya, Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Trigonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+.
Sistem ini dibagi menjadi 5 kelas:

1.   Hexagonal Scalenohedral
·       Kelas : ke-13, Simetri : 3bar 2/m
·       Elemen Simetri : ada 1 bidang putar tiga, 3 bidang putar dua, 3 bidang simetri
·       Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari sumbu c.
·       Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o. Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
·       Bentuk umum : scalenohedron, rhombohedron, diheksagonal prism, hexagonal prism, hexagonal dipiramid, dan basal pinakoid.
·       Mineral yang Umum : anggota kelompok kalsit, termasuk korondum, hematit, bismuth, antimon, sturmanit, brusit, arsenic, soda niter, chabazit, dan millerit.

2. Trigonal Trapezohedral
·       Kelas : ke-12, Simetri : 3 2
·       Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga, 3 sumbu putar dua.
·       Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari sumbu c.
·       Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o. Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
·       Bentuk umum : trigonal trapezohedron, rhombohedron, trigonal prism, ditrigonal prism, trigonal dipiramid, dan basal pinakoid.
·       Mineral yang Umum : kuarsa, tellurium berlinit, dan cinnabar.

3. Ditrigonal Pyramidal
·       Kelas : ke-11, Simetri : 3m
·       Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga dan 3 bidang simetri
·       Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari sumbu c.
·       Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o. Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
·       Bentuk umum : ditrigonal pyramid, heksagonal prism, heksagonal pyramid, trigonal prism, ditrigonal prism, dan pedion.
·       Mineral yang Umum : anggota kelompok tourmalin, termasuk didalamnya pyrargyrit, jarosit, natrojarosit, alunit, dan proustit.

4. Kelas Rhombohedral
·       Kelas : ke-10, Simetri : 3bar
·       Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga dan sebuah pusat
·       Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari sumbu c.
·       Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o. Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
·       Bentuk umum : rhombohedron, heksagonal prism, dan basal pinakoid.
·       Mineral yang Umum : anggota kelompok dolomit, termasuk ankerit, ilmenit, dioptase, willemit, dan phenakit.

5.  Kelas Trigonal Pyramidal
·       Kelas : ke-9, Simetri : 3
·       Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar tiga
·       Sumbu Kristal : tiga sumbu, semua dalam satu bidang disebut a1, a2, dan a3 sama satu sama lain, tapi sumbu-sumbu tersebut dapat lebih pendek ata lebih panjang dari sumbu c.
·       Sudut : semua sudut antara dasar sumbu a = 120o. Sudut antara sumbu a dan sumbu c = 90o.
·       Bentuk umum : trigonal pyramid, trigonal prism, dan pedion.
·       Mineral yang Umum : gratonit hanya satu-satunya yang dikenal dalam kelas ini.

5. Ortorombik

    Sistem kristal ortorombik terdiri atas 4 bentuk, yaitu : ortorombik sederhana, body center (berpusat badan) (yang ditunjukkan atom dengan warna merah), berpusat muka (yang ditunjukkan atom dengan warna biru), dan berpusat muka pada dua sisi ortorombik (yang ditunjukkan atom dengan warna hijau). Panjang rusuk dari sistem kristal ortorombik ini berbeda-beda (a ≠ b≠ c), dan memiliki sudut yang sama (α = β = γ) yaitu sebesar 90°.



Dikatakan ortorombik karena sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang saling tegak lurus satu sama lain. Tetapi ketiga sumbu ini mempunyai panjag yang berbeda-beda. Sumbu-sumbu simetri ini diberi tanda huruf a, b, dan c denga parameter sumbu a<b<c. Sumbu a disebut sumbu brakia, sumbu b disebut sumbu makro, dan sumbu c disebut sumbu vertikal. Sistem kristal ini memiliki pusat simetri yang merupakan titik pertemuanantara bidang dan sumbu simetri yang ada pada sistem kristal tersebut.Sistem kristal ini juga mempunyai 3 bidang simetri karena jika banguntersebut dibagi oleh sumbu simetri akan menghasilkan 2 bagian yang sama besarnya. Sistem kristal ini mempunyai 1 simetri putar 2-fold pada ketiga sumbunya yaitu apabila diputar berdasar sumbu a, b, c akan menunjukkan 2 kenampakanyang sama. Berdasar contoh di atas, maka sistem kristal ini digolongkan dalam kelasdypiramidal dengan Herman maugin Symbol 2/m 2/m 2/m. Beberapa contohmineral yang mempunyai sistem kristal ortorombik kelas dypiramidal adalah phurcalite, chesterite, epsomite.  

6. Monoklinik

    Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek. System Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c dan memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ. Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut α dan β saling tegak lurus (90˚), sedangkan γ tidak tegak lurus (miring).



Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ. Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut α dan β saling tegak lurus (90˚), sedangkan γ tidak tegak lurus (miring).
 
a ≠ b≠ c
sudut antara b dan c = 90
sudut antara a dan b = 90
sudut antara a dan c ≠ 90
sudut antara a dan –b = 45
         a : b : c = sembarang
 Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ.
 Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:
1.    Sfenoid
·     Kelas : ke-4
·     Simetri : 2
·     Elemen Simetri : 1 sumbu putar
2.    Doma
·     Kelas : ke-3
·     Simetri : m
·     Elemen Simetri : 1 bidang simetri
3.    Prisma
·    Kelas : ke-5
·    Simetri : 2/m
·   Elemen Simetri : 1 sumbu putar dua dengan sebuah bidang simetri  yang berpotongan tegak lurus
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite,  malachite, colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992)

7. Triklinik  

Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚. Hal ini berarti, pada system ini, sudut α, β dan γ tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.


        Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 45˚ ; bˉ^c+= 80˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ dan bˉ membentuk sudut 80˚ terhadap c+.
Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas:
Pedial
§  Kelas : ke-1
§  Simetri : 1
§  Elemen Simetri : hanya sebuah pusat
Pinakoidal
§  Kelas : ke-2
§  Simetri : 1bar
§  Elemen Simetri : hanya sebuah pusat
   
       Tipe kristal ini memiliki 3 (tiga) sumbu yang tidak sama yang saling berpotongan pada sisi miringnya.Felspar-Albit (sebuah silikat natrium dan aluminium) merupakan contoh dari mineral dengan sistem kristal triklin.Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama. System  kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚. Hal ini berarti, pada system ini, sudut α, β dan γ tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite, anorthite, labradorite, kaolinite, microcline dan anortoclase, kyanit, oligoclase, thodonit, pherthite, pectolite, amblygonute (Pellant, chris. 1992).

Klasifikasi kisi

Kisi atom raksasa

      Suatu kisi kristal yang terdiri dari atom yang saling berikatan dengan ikatan kovalen, misalnya, intan. Zat dengan kisi atomik raksasa sangat kuat serta mempunyai titik leleh dan didih yang sangat tinggi.

Kisi ion raksasa

Suatu kisi kristal yang terdiri dari ion yang terikat satu sama lain dengan ikatan ion, misalnya, natrium klorida. Ikatan ion sangat kuat, ini berarti zat akan mempunyai titik leleh dan titik didih yang tinggi.

Kisi logam raksasa

Suatu kisi kristal yang terdiri dari atom logam yang saling berikatan dengan ikatan logam, misalnya, zink. Elektron terdelokalisasi bebas bergerak, menjadikan logam penghantar listrik dan panas yang baik. Lapisan logam dapat saling melipat di atas yang lain, membuat logam dapat ditempa dan dapat ditarik.

Kisi molekular

Suatu kisi kristal yang terdiri dari molekul yang saling berikatan dengan gaya-gaya antarmolekul, misalnya, iodin. Gaya ini lemah, sehingga kristal mempunyai titik leleh dan didih yang rendah bila dibandingkan dengan senyawa ion dan dapat dengan mudah diputuskan. Ikatan kovalen di dalam molekulnya lebih kuat dan tidak terlalu mudah untuk diputuskan.
 

 

                           




Postingan populer dari blog ini

MAGNETOSTATIK

 MAGNETOSTATIK  Magnetostatika adalah salah satu cabang ilmu fisika yang mengkaji tentang medan magnet dimana arus dalam sistem tidak bergerak (statis). pembahasan tentang magnetostatika erat kaitannya dengan elektrostatika dan elektromagnetika. Dalam magnetostatika banyak membahas tentang induksi magnetik yang dihasilkan oleh arus listrik searah. Adanya arus listrik akan menghasilkan induksi magnetik. Dengan kata lain, medan magnet dapat timbul karena adanya arus listrik. Dalam magnetostatik, kita dapat menggunakan hukum Gauss untuk magnetisme dan hukum Ampere untuk menentukan medan magnet yang dihasilkan oleh arus listrik searah.   Kita juga dapat menggunakan konsep garis gaya magnet, induksi magnetik, fluks magnetik, dan momen dipol magnetik untuk menggambarkan sifat-sifat medan magnet . Magnetostatik juga dapat digunakan untuk memprediksi peristiwa-peristiwa peralihan magnetik yang cepat yang terjadi pada skala waktu nanodetik atau kurang . Magnetostatik banyak diguna...

TEORI KEGAGALAN DAN SIFAT HIGROTERMAL

  Teori Kegagalan Material Komposit      Teori kegagalan material komposit digunakan untuk memahami dan memprediksi kapan dan bagaimana material komposit akan mengalami kegagalan ketika diterapkan beban atau kondisi lingkungan tertentu. Karena komposit terdiri dari dua atau lebih komponen dengan sifat yang berbeda (seperti serat dan matriks), kegagalan bisa terjadi dalam berbagai bentuk yang lebih kompleks dibandingkan dengan material tunggal (monolitik). Oleh karena itu, teori kegagalan komposit lebih rumit dan mempertimbangkan interaksi antara komponen-komponen material tersebut. Jenis-Jenis Kegagalan dalam Material Komposit Kegagalan Serat Pecahnya Serat : Serat pada komposit bisa mengalami kegagalan jika beban yang diterapkan melebihi kekuatan tarik serat. Kegagalan ini biasanya terjadi pada serat yang mengarah ke arah tegangan. Kegagalan Matriks Retakan Matriks : Matriks dapat retak atau pecah jika mengalami tegangan tarik atau geser yang lebih tinggi dari batas...

MATERI UJI KUAT LAMINA KOMPOSIT KOEFISIEN

  Uji Kuat Lamina Komposit dan Koefisiennya      Lamina komposit adalah lapisan tipis material komposit yang terdiri dari serat dan matriks. Setiap lapisan (lamina) dalam komposit memiliki orientasi serat yang dapat berbeda-beda untuk memberikan kekuatan dan kekakuan yang optimal dalam arah tertentu. Uji kuat lamina komposit bertujuan untuk menentukan bagaimana lapisan komposit berperilaku di bawah kondisi beban, termasuk ketahanan terhadap kegagalan atau kerusakan. Uji Kuat Lamina Komposit      Uji kuat lamina komposit mengukur sifat mekanik dari lapisan komposit (serat dan matriks) yang mempengaruhi ketahanan material terhadap beban. Uji ini penting untuk memahami karakteristik kekuatan dan kekakuan dari bahan komposit yang digunakan dalam aplikasi struktural, terutama yang melibatkan material lapisan (lamina). Beberapa uji yang umum dilakukan pada lamina komposit termasuk: Uji Tarik (Tensile Test) : Uji tarik dilakukan untuk mengukur kekuatan tarik...